Hi...
Perkenalkan, Nama aku Ghoni. Aku tipe orang yang selalu overthinking. Selalu loh ya, bukan kadang-kadang. Overthingking kayak gimana sih? sangat sulit membahasakannya, karena aku suka kehilangan kata untuk mewakili apa isi kepalaku. Tidak heran jika aku berbicara serius untuk sesuatu yang aku merasa sangat pahami, aku menjadi terbata-bata. Alasan itulah yang biasanya membuat aku terkesan selalu berputar-putar dalam menanyakan sesuatu, karena aku susah membahasakannya. Tapi yang jelas, ketika aku bertanya kepalaku pasti mengerti jika ada seusuatu yang salah dan masih belum aku pahami. Apapun tu.
Dan hari ini, tanggal 26 Mei 2020. Aku mengetik ini sebagai daily journalku, dan jujur aku merasa lebih baik ketika menuliskan keluh kesahku. Perlu banget dicoba nih buat kalian semua... Menyenangkan juga loh ternyata...
Tapi hari ini aku agak sedih, karena mungkin aku merasa aku punya jawaban atas salah satu overthingking yang aku alami. Aku menemukan bahasa yang tepat sebagai wakilan dari isi otakku, dan aku menulisnya serta mempublish ini karena jarang sekali aku menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan sesuatu.
Aku merasa tidak terima terhadap keterbatasan yang ada pada Manusia. Rasanya sangat sedih menyadari bahwa kita sebagai manusia sangatlah terbatas. waktu kita sangatlah sedikit, kesempatan yang kita punya juga sangatlah sedikit. Ini sangatlah bertentangan dengan tujuan hidupku untuk merasakan segala jenis emosi dalam semua kondisi yang ada, karena aku merasa itulah satu-satunya cara aku bisa bisa menyimpulkan apa arti hidup yang sebenarnya. Terlalu banyak hal yang tidak akan pernah kita rasakan sampai waktunya kita meninggal nantinya.
Sedih sih, bercita-cita bisa tinggal menetap sementara di sebuah desa kecil di Hutan Amazon dengan dikelilingi penduduk ramah seperti Marsupilami mungkin tidak akan bisa kesampaian.
Tidak semua hal dapat aku pejari dan kuasai, belajar programming dan belajar fisika kuantum untuk minggu ini? bisa sih... tapi kalau begitu bagaimana aku bisa belajar relativitas dan statistik. Saya yakin anda paham apa maksud saya.
Karena sebagai manusia aku hanya bisa menjalani satu kehidupan saja, rasanya aneh jika harus ketinggalan sesuatu karena tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Walaupun memang, kita tidak akan pernah tahu akan menjadi seperti apa kita kedepannya. Apakah aku akan menjadi Fisikawan? atau tidak menutup kemungkinan menjadi seorang pelawak? atau mungkin penulis? apakah menjadi seorang Ulama? atau mungkin juga tiba-tiba aku menemukan solusi teori string dengan matematika modern yang lebih tinggi dari tensor dan metrik disertai menguasai segala hal tekhnis tentang mesin sehingga aku bisa bebas menjelajahi dunia paralel serta pergi semaunya ke masa depan dan masa lalu? Ha ha. Aku tertawa karena bagian ini terdengar seperti orang yang baru mulai belajar dan ingin pamer, atau mungkin hanya perasaanku saja, tapi ya sudahlah, point-nya bukan itu.
0 komentar:
Posting Komentar